Journey Journal
Pengantar
Program ini kemungkinan akan berkelanjutan dari buatan saya setiap bulannya, hal ini mengenai bagaimana proses saya berpikir atau cerita-cerita selama 1 bulan kalender Masehi. Journal Journey ini akan bersumber dari berbagai macam pikiran yang saya pernah pikirkan dan diulik dari berbagai macam pendekatan ilmu. saya menyukai ilmu-ilmu karena semua saling berkaitan seperti bagaimana psikis mempengaruhi fisik seseorang, dari fisik seseorang akan mempengaruhi sosial dan berbagai macam pemikiran sosial, yang nantinya akan berpengaruh pada lingkungan sekitar seperti gedung-gedung, tumbuhan dan hewan serta yang lainnya.Dewasa Belum Tentu Bijak dan Bajik
Tepat januari ini saya berusia 31 tahun dan masih tetap sendiri kemana-mana, belum menikah dan belum ada pasangan. Syukurnya saya itu terlahir sebagai lelaki, sebab adanya kebebasan yang dirasa mutlak di lingkungan yang tidak terlalu ramah dengan wanita. Ini bukan hanya di keluarga besar saya, tetapi rerata kebanyakan masyarakat lebih mengidolakan anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. kebanyakan dari sosial menurut saya salah mengartikan jenis kelamin dan gender, penyebab dari sulitnya membedakan jenis kelamin dan gender salah satunya pembendaharaan kata Bahasa Indonesia masih kurang sehingga ketika mengartikan gender, akan merujuk kepada jenis kelamin. Gender itu lebih kepada peran dari seseorang di dalam masyarakat yang secara tidak langsung berhubungan dengan Jenis Kelamin.
Kita menyepakati bila Jenis Kelamin itu ada 2 yaitu cewe dan cowo, sedangkan gender itu diartikan banyak oleh sosial belakangan ini. awalnya Gender itu merujuk pada jenis kelamin, namun seiring dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, Gender itu memiliki makna tersendiri dibandingkan dengan Jenis Kelamin. Gender merujuk kepada maskulin dan feminim, tetapi akhir-akhir ini Gender merujuk kepada banyak hal. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan membuat pengelompokan menjadi semakin semit. Hal ini mungkin terlihat seperti ribet, namun dalam ilmu pengetahuan pengelompokan yang semakin sempit membuat mudah dalam memilih mana yang akan diteliti selanjutnya.
gender di Indonesia juga berbagai macam di setiap daerahnya, jika mempelajari kesetaraan gender saya merasa Indonesia sudah ada dari dulu. beberapa contoh yang dapat saya berikan adalah beberapa adat Minangkabau yang mewariskan harta kepada anak perempuannya, bahkan perempuan yang meminang lelaki untuk menikah. Hal ini berbeda dengan kebanyakan di Indonesia, dimana lelaki yang meminang wanita untuk di peristri. Ada pula di Bali yang hampir mirip yaitu sentana, dimana pihak wanita meminang lelaki. kedua contoh itu menandakan adanya kesetaraan gender antara maskulin dan feminim di Indonesia karena memiliki banyak adat dan budaya.
Beragam adat dan budaya di Indonesia seharusnya menjadi acuan kepada kita untuk lebih mengerti bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khasnya masing-masing tanpa mengatakan bahwa adat dan budaya di A lebih baik dibandingkan adat dan budaya di B. Semua adat dan budaya baik pada saat itu, karena adat dan budaya adalah sebuah pemikiran sekelompok sosial yang mendiami suatu tempat yang pada akhirnya menciptkan atau memikirkan aturan, adat, budaya dan lain sebagainya. seharusnya semakin kita dewasa kita semakin bijak bahwa setiap orang ataupun setiap daerah memiliki pemikirannya sendiri. kata-kata pepatah yang sering kita dengar:"dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung"
Kata-kata bijak itu menandakan bahwa kita seharusnya menghargai dari peraturan adat istiadat tempat dimana kita tinggali, bukan meracu bahwa adat istiadat tempat kita tinggali lebih buruk dibandingkan adat istiadat tempat sebelumnya kita tinggali. Seharusnya bertanya, Bila adat istiadat yang sebelumnya ditinggali itu lebih baik, Mengapa pindah dari tempat tersebut dan ingin merubah adat istiadat yang saat ini?. Menurut saya pemikiran seperti ini yang harus di pertahankan, karena pemikiran merubah adat istiadat ataupun merasa adat istiadat yang saat ini tidak benar terlalu kekanak-kanakan dan belum bijak dan bajik menghadapi sebuah kehidupan.
Bertambahnya usia belum tentu menambah dari yang namanya kebijakan dan kebajikan, hal ini merujuk kepada bagaimana orang yang usianya tua menghadapi suatu masalah. Perjalanan saya 31 tahun hidup membuat saya sadar bahwa semakin usia bertambah tidak selamanya kebijaksanaan dan kebajikan dalam berpikir akan didapatkan. Mungkin saya melihat dari jenis kelami dan gender saya saat ini, yaitu ketika lelaki menjadi orang tua tidak banyak yang berperan menjadi seorang ayah yang baik. Parahnya lagi sedikit yang menyadari hal itu, hal ini merujuk kepada anak-anak Indonesia cenderung kehilangan sosok ayah. Secara garis besar Maskulinitas dalam Indonesia hanya dilihat bagaimana dia berpakaian, ketika berpakaian yang tidak memperdulikan keadaan di rasa Maskulin, sedangkan yang cenderung perawatan akan di anggap Feminim.
Bahkan lelaki metroseksual sering di anggap feminim, padahal yang saya lihat ketika sudah memiliki pendapatan yang baik seharusnya kita memperhatikan penampilan kita dan kita juga harus memperhatikan kesehatan kita. Ketika lelaki itu berada di dapur dan memasak untuk keluarga, hal ini tidaklah salah karena dia perduli dengan kesehatan dirinya dan di sekitarnya. Saya merasa lelaki seperti ini juga laik dianggap sebagai lelaki maskulin. Ketika wanita menunjukan sifatnya sebagai sesosok manusia, ketika berhadapan dengan bahaya itu tidak masalah untuk melawan. Cewek juga berhak melakukan yang cowo lakukan terkecuali dari segi biologisnya. cewe yang melakukan hal yang biasa cowo lakukan akan tetap terpandang sebagai feminim, bukan cuma duduk dengan sopan santun (ini wajib untuk setiap orang) baru dikatakan sebagai feminim.
Kesmipulan
kehidupan dewasa tidak diharuskan kita untuk bersikap dewasa, sikap dewasa yang saya maksudkan adalah bersikap bajik dan bijak. bajik dalam melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain dan tetap mendapatkan keuntungan terhadap diri sendiri. Bijak dalam arti setiap keputusan sudah dipikirkan secara matang agar tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi orang lain dan juga kita sebagai mahluk yang sosial. Tidak semua orang yang sudah berumur maupun yang sudah memiliki anak akan bersikap seperti dewasa yang bajik dan bijak, namun keseringan dianggap sebagai orang yang harus di hormati.
Menghormati bukan berarti tidak boleh memberikan kritikan, tetapi bukan juga bersikap kurang sopan karena kesopanan itu harus diberlakukan untuk segala usia bukan cuma kepada usia yang lebih tua.
"dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung"
Kata-kata bijak itu menandakan bahwa kita seharusnya menghargai dari peraturan adat istiadat tempat dimana kita tinggali, bukan meracu bahwa adat istiadat tempat kita tinggali lebih buruk dibandingkan adat istiadat tempat sebelumnya kita tinggali. Seharusnya bertanya, Bila adat istiadat yang sebelumnya ditinggali itu lebih baik, Mengapa pindah dari tempat tersebut dan ingin merubah adat istiadat yang saat ini?. Menurut saya pemikiran seperti ini yang harus di pertahankan, karena pemikiran merubah adat istiadat ataupun merasa adat istiadat yang saat ini tidak benar terlalu kekanak-kanakan dan belum bijak dan bajik menghadapi sebuah kehidupan.
Bertambahnya usia belum tentu menambah dari yang namanya kebijakan dan kebajikan, hal ini merujuk kepada bagaimana orang yang usianya tua menghadapi suatu masalah. Perjalanan saya 31 tahun hidup membuat saya sadar bahwa semakin usia bertambah tidak selamanya kebijaksanaan dan kebajikan dalam berpikir akan didapatkan. Mungkin saya melihat dari jenis kelami dan gender saya saat ini, yaitu ketika lelaki menjadi orang tua tidak banyak yang berperan menjadi seorang ayah yang baik. Parahnya lagi sedikit yang menyadari hal itu, hal ini merujuk kepada anak-anak Indonesia cenderung kehilangan sosok ayah. Secara garis besar Maskulinitas dalam Indonesia hanya dilihat bagaimana dia berpakaian, ketika berpakaian yang tidak memperdulikan keadaan di rasa Maskulin, sedangkan yang cenderung perawatan akan di anggap Feminim.
Bahkan lelaki metroseksual sering di anggap feminim, padahal yang saya lihat ketika sudah memiliki pendapatan yang baik seharusnya kita memperhatikan penampilan kita dan kita juga harus memperhatikan kesehatan kita. Ketika lelaki itu berada di dapur dan memasak untuk keluarga, hal ini tidaklah salah karena dia perduli dengan kesehatan dirinya dan di sekitarnya. Saya merasa lelaki seperti ini juga laik dianggap sebagai lelaki maskulin. Ketika wanita menunjukan sifatnya sebagai sesosok manusia, ketika berhadapan dengan bahaya itu tidak masalah untuk melawan. Cewek juga berhak melakukan yang cowo lakukan terkecuali dari segi biologisnya. cewe yang melakukan hal yang biasa cowo lakukan akan tetap terpandang sebagai feminim, bukan cuma duduk dengan sopan santun (ini wajib untuk setiap orang) baru dikatakan sebagai feminim.
Kesmipulan
kehidupan dewasa tidak diharuskan kita untuk bersikap dewasa, sikap dewasa yang saya maksudkan adalah bersikap bajik dan bijak. bajik dalam melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain dan tetap mendapatkan keuntungan terhadap diri sendiri. Bijak dalam arti setiap keputusan sudah dipikirkan secara matang agar tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi orang lain dan juga kita sebagai mahluk yang sosial. Tidak semua orang yang sudah berumur maupun yang sudah memiliki anak akan bersikap seperti dewasa yang bajik dan bijak, namun keseringan dianggap sebagai orang yang harus di hormati.
Menghormati bukan berarti tidak boleh memberikan kritikan, tetapi bukan juga bersikap kurang sopan karena kesopanan itu harus diberlakukan untuk segala usia bukan cuma kepada usia yang lebih tua.

Komentar
Posting Komentar